MAKALAH
SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI KESEHATAN “ INTERAKSI
DAN PERAN SOSIAL ”
DISUSUN OLEH :
Kelompok 2
1.
|
Ainul Muthemainnah Mukmin
|
14120180080
|
2.
|
Irna
|
14120180089
|
3.
|
Kurnia Tri Yanti
|
14120180097
|
4.
|
Laila Kadriani
|
14120180107
|
Nama Dosen :
Dr. Andi Asrina, SKM, M.Kes
PRODI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya izin, rahmat, dan kuasa Nya kami
masih diberikan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul Interaksi dan Peran Sosial.
Pada kesempatan ini tak
lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terutama kepada
Dosen pengajar Mata Kuliah Sosiologi dan Antropologi Kesehatan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap
makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita, khususnya mengenai interaksi dan peran sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan masih
jauh dari apa yang diharapkan.
Untuk itu, kami
berharap kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa kritik dan saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat bermanfaat bagi
siapa pun yang membacanya
Makassar,
06 Maret 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PEGANTAR.................................................................................................
|
i
|
DAFTAR ISI.............................................................................................................
|
ii
|
BAB I PENDAHULUAN
|
|
1.1 Latar Belakang....................................................................................................
|
1
|
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................
|
1
|
1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................................
|
2
|
BAB II PEMBAHASAN
|
|
2.1 Pengertian Interaksi Sosial..................................................................................
|
3
|
2.2 Ciri - Ciri Interaksi
Sosial...................................................................................
|
3
|
2.3 Faktor - Faktor Yang Mmepengaruhi Terjadinya Interaksi
Sosial.....................
|
3
|
2.4 Syarat - Syarat Interaksi
Sosial...........................................................................
|
5
|
2.5 Bentuk - Bentuk Interaksi Sosial.........................................................................
|
7
|
2.6 Pengertian Peran
Sosial.......................................................................................
|
10
|
2.7 Macam - Macam Peran Sosial.............................................................................
|
10
|
2.8 Cakupan Peran
Sosial..........................................................................................
|
11
|
2.9 Interaksi Sosial sebagai Wujud Status dan Peranan
Sosial.................................
|
11
|
BAB III PENUTUP
|
|
3.1
Kesimpulan.........................................................................................................
|
12
|
3.2 Saran...................................................................................................................
|
12
|
DAFTAR
PUSTAKA...............................................................................................
|
13
|
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Interaksi adalah suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau
lebih objrk mempengaruhi atau memiliki efek
satu sama lain.Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada
aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu, antara individu dengan
individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok. Guru
mengajar merupakan contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok.
Interaksi sosial memerlukan syarat yaitu kontak sosial dan komunikasi sosial..
Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial
meliputi imitasi, sugesti, identifikasi, simpati dan empati. Imitasi adalah
interaksi sosial yang didasari oleh faktor meniru orang lain. Sugesti adalah
interaksi sosial yang didasari oleh adanya pengaruh. Biasa terjadi dari yang
tua ke yang muda, dokter ke pasien, guru ke murid atau bisa juga dipengaruhi
karena iklan. Indentifikasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor
adanya individu yang mengindentikkan (menjadi sama) dengan pihak yang lain.
Contoh menyamakan kebiasaan pemain sepak bola idolanya. Simpati adalah interaksi sosial yang didasari
oleh faktor rasa tertarik atau kagum pada orang lain. Contoh tindakan membantu
korban bencana alam. Interaksi sosial mensyaratkan adanya kontak sosial dan
komunikasi sosial. Kemudian membuat terjadinya proses sosial. Proses sosial
dapat bersifat asosiatif dan disasosiatif. Asosiatif meliputi akomodasi,
difusi, asimilasi, akulturasi, kooperasi atau kerjasama (Intinya interaksi
sosial yang baik-baik, kerjasama, rukun, harmonis, serasa, dan
lain-lain). Disasosiatif meliputi konflik, kontravensi, dan kompetensi (Intinya
interaksi sosial yang tidak baik, penuh persaingan, perang dingin, bertengkar,
dan lain-lain).
Peran sosial adalah eksekusi dari
hak, kewajiban, tugas, atau tanggung jawab seseorang yang sesuai dengan status
sosialnya. Dengan demikian peran sosial ditentukan oleh status sosial. Apabila
apa yang dikerjakan oleh individu selaras dengan status atau posisinya di
masyarakat, maka individu tersebut sedang memainkan peran sosialnya.
Peran sosial lebih dinamis ketimbang
status sosial. Pada praktiknya, peran sosial tak jarang berbentuk konflik, hal
ini karena individu memiliki lebih dari satu status sehingga menuntut
dimainkannya lebih dari satu peran. Sebagai contoh, seorang ayah yang punya
anak kecil. Ia merasa dilema antara mengasuh anaknya di rumah atau kerja di
kantor. Seorang ibu juga bisa merasakan dilema yang sama.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Interaksi Sosial ?
2. Apa saja ciri-ciri interaksi sosial?
3. Apa faktor – faktor yang mempengaruhi
terjadinya interaksi ?
4. Apa syarat – syarat interaksi sosial ?
5. Apa saja bentuk – bentuk interaksi sosial ?
6. Apa pengertian peran sosial ?
7. Apa macam – macam peran sosial ?
8. Apa cakupan peran sosial ?
9. Bagaimana interaksi sosial sebagai wujud
status dan peran sosial ?
1.3
Tujuan Penulisan
Setiap
penulisan sesuatu pasti
mempunyai tujuan tertentu, dengan demikian juga penulisan
makalah ini penulis mempunyai tujuan :
1.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan interaksi sosial.
2.
Untuk mengetahui apa saja ciri –
ciri interaksi sosial
3.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang
mendasari terjadinya proses interaksi.
4.
Untuk mengetahai syarat-syarat
interaksi sosial
5.
Untuk mengetahui bentuk-bentuk
interaksi sosial
6.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud
peran sosial
7.
Untuk mengetahui macam – macam peran
sosial
8.
Untuk mengetahui interaksi sosial sebagai wujud status dan
peran sosial
9.
Untuk
mengetahui cakupan peran sosial.
10.
Untuk
menambah wawasan tentang interaksi dan peran sosial
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi Sosial adalah hubungan timbal balik antara dua
orang atau lebih dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan
peran secara aktif. Interaksi sosial adalah tindakan, kegiatan, atau praktik dari dua
orang atau lebih yang masing-masing mempunyai orientasi dan tujuan.
·
Pengertian Interaksi Sosial Menurut
Para Ahli :
1.
Pengertian Interaksi Sosial menurut
Robert M.Z. Lawang (1986)
Interaksi
sosial adalah proses ketika orang-orang yang berkomunikasi saling pengaruh –
memengaruhi dalam pikiran dan tindakan.
2.
Pengertian Interaksi Sosial menurut
Soerjono Soekanto
Interaksi
sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan
antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara
orang per orang dan kelompok manusia.
3.
Pengertian Interaksi sosial menurut
Bonner
Interaksi sosial (dalam Ali,
2004) merupakan
suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu
mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya
2.2 Ciri – Ciri Interkasi Sosial
Menurut Tim Sosiologi (2002), ada
empat ciri - ciri interaksi sosial, antara lain :
§ Jumlah
pelakunya lebih dari satu orang
§ Terjadinya
komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial
§ Mempunyai
maksud atau tujuan yang jelas
§ Dilaksanakan
melalui suatu pola sistem sosial tertentu
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya
Interaksi Sosial
Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada
beberapa faktor berikut ini :
A.
Imitasi
Imitasi
merupakan tindakan manusia untuk meniru tingkah pekerti orang lain yang ada di
sekitarnya, atau tindakan atau usaha untuk meniru tindakan orang lain sebagai
tokoh idealnya. Imitasi cenderung secara tidak disadari dilakukan oleh
seseorang. Imitasi banyak diperngaruhi oleh tingkat jangkauan inderanya, yaitu
sebatas yang dilihat, didengar dan dirasakan. Sejak lahir manusia mengimitasi
dirinya sendiri, seperti mengulang kata-kata melulai mulutnya, mengucapkan
lafal -lafal yang tidak memiliki arti. Tindakan ini dilakukan karena dia sedang
belajar melafalkan kata-kata sekaligus melatih lidahnya melalui naluri.
Kemudian ia mulai mengimitasi tindakan orang lain, terutama perkataan-perkataan
orang lain, seperti orang tua, saudara kandung serta orang lain di sekitarnya
dengan jangkauan inderanya. Misalnya, seorang anak sering meniru
kebiasaan-kebiasaan orang tuanya seperti cara bicara dan berpakaian. Manusia
dalam fase ini sudah tidak hanya sekedar meniru, atau mempelajari pekerti orang
lain tetapi ia sudah memiliki kemampuan analitis kritis melalui akalnya.
B. Sugesti
Sugesti adalah
pemberian pengaruh pandangan seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu
sehingga orang tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh
tersebut tanpa berpikir panjang. Sugesti biasanya dilakukan oleh orang yang
berwibawa, mempunyai pengaruh besar, atau terkenal dalam masyarakat. Contoh
sugesti salah satunya adalah obat yang harganya mahal yang merupakan produk
impor dianggap pasti manjur menyembuhkan penyakit. Anggapan tersebut merupakan
sugesti yang muncul akibat harga obat yang mahal dan embel-embel produk luar
negeri. Dalam studo–studi ilmu sosial, sugesti dapat dirumuskan sebagai proses
dimana seseorang menerima suatu cara penglihatan atau pedoman – pedoman tingkah
laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Akan tetapi, kenyataannya
tidak semua individu mampu melakukan sugesti ini, sebab ada beberapa individu
yang memiliki kelainan jiwa. Bentuk kelainan jiwa ini semata – mata dipengaruhi
oleh beberapa hal seperti :
§ Hambatan berpikir. Hambatan berpikir terjadi ketika hubungan di mana
seseorang memberikan sugesti bersikap over pandangan sehingga orang yang
dikenainya tidak diberi pertimbangan–pertimbangan atau berpikir kritis. Dalam
hal ini orang yang kena sugesti menelan saja apa yang di anjurkan oleh pihak
lain. Seseorang yang telah berpikir atau daya proses pikirnya dikurangi maka ia
akan kecil sekali memiliki dorongan untuk berpikir kritis, sehingga menerima
apa adanya.
§ Keadaan pikiran yang terpecah – pecah. Keadaan pikiran seseorang terpecah-pecah
ketika di dalam pikirannya mengalami kelelahan atau sedang mengalami kelelahan
atau sedang mengalami kebingungan karena menghadapi kesulitan-kesulitan
sehingga dengan kelelahan pemikiran yang dialaminya ia tidak bisa berfikir.
§ Otoritas. Kecenderungan seseorang atau sekelompok orang
menerima pandangan- pandangan atau sikap-sikap tertentu karena sikap dan
pandangan tersebut berasal dari orang yang dianggap ahli dalam pihak otoritas.
§ Mayoritas. Dalam hal ini seseorang atau sekelompok akan
menerima saja sikap atau pandangan karena dukungan banyak orang (mayoritas)
terhadap sikap atau pandangan tersebut.
§ Will of believe. Dalam hal ini seseorang menerima pandangan atau
pemikiran orang lain tanpa didahului oleh pemikiran dan pertimbangan karena apa
yang disampaikan orang lain sudah ada dalam dirinya tetapi belum terungap atau
diungkapkan
C.
Identifikasi
Identifikasi merupakan kecenderungan
atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi
mengakibatkan terjadinya pengaruh yang lebih dalam dari sugesti dan imitasi
karena identifikasi dilakukan oleh seseorang secara sadar. Contoh identifikasi,
seorang pengagum berat artis terkenal, ia sering mengidentifikasi dirinya
menjadi artis idolanya dengan meniru model rambut, model pakaian, atau gaya
perilakunya dan menganggap dirinya sama dengan artis tersebut.
D.
Simpati
Simpati adalah proses ketika
seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Faktor utamanya adalah perasaan
untuk memahami orang atau pihak lain. Akan tetapi, simpati timbul tidak atas
dasar logis rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaan sebagaimana proses
identifikasi. Contoh simpati adalah pada peringatan ulang tahun, pada saat
lulus ujian, atau pada saat mencapai suatu prestasi. Timbulnya simpati yang
muncul perlahan-lahan juga berarti bahwa gejala identifikasi dan simpati itu
sebenarnya sudah berdekatan.
E.
Empati
Empati adalah kemampuan mengambil atau
memainkan peranan secara efektif dan seseorang atau orang lain dalam konsidi
yang sebenar-benarnya, seolah-olah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang
lain tersebut seperti rasa senang, sakit, susah, dan bahagia. Empati hampir
mirip dengan sikap simpati. Perbedaannya, sikap empati lebih menjiwai atau
lebih terlihat secara emosional. Contoh empati adalah saat kita turut merasakan
empati terhadap masyarakat Yogyakarta yang menjadi korban letusan Gunung
Merapi.
2.4 Syarat-syarat Interaksi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, interaksi
sosial tidak mungkin terjadi tanpa adanya dua syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi.
1.
Kontak Sosial
Kontak sosial adalah hubungan masing-masing
pihak dalam berinteraksi orang dengan perorangan, perorangan dengan kelompok,
kelompok dengan kelompok. Kontak sosial bukan semata-mata tergantung dari
tindakan, tetapi juga tergantung terhadap sikap yang ditunjukan individu untuk
berkomunikasi dengan orang lain. Kata “kontak” (contact) berasal
dari bahasa latin con
atau cum yang artinya bersama-sama dan tangere yang artinya
menyentuh. Jadi, kontak berarti bersama-sama menyentuh. Dalam pengertian
sosiologi, kontak sosial tidak selalu terjadi melalui interaksi atau hubungan
fisik, sebab orang bisa melakukan kontak sosial dengan pihak lain tanpa
menyentuhnya, misalnya bicara melalui telepon, radio, atau surat elektronik.
Oleh karena itu, hubungan fisik tidak menjadi syarat utama terjadinya kontak.
Kontak sosial memiliki sifat-sifat berikut.
A.
Kontak
sosial dapat bersifat positif atau negatif.
·
Kontak
sosial positif mengarah pada suatu kerja sama.
· Kontak
sosial negatif mengarah pada suatu pertentangan atau konflik.
B. Kontak
sosial dapat bersifat primer atau sekunder
· Kontak sosial primer terjadi apabila
para peserta interaksi bertemu muka secara langsung.
Misalnya, kontak antara guru dan
murid di dalam kelas, penjual dan pembeli
di pasar tradisional, atau
pertemuan ayah dan anak di meja makan.
·
Kontak
sekunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui suatu perantara. Misalnya, percakapan melalui telepon. Kontak sekunder dapat dilakukan
secara langsung dan tidak langsung. Kontak sekunder langsung
misalnya terjadi saat ketua RW
mengundang ketua RT datang ke
rumahnya melalui telepon. Sementara jika Ketua
RW menyuruh sekretarisnya menyampaikan
pesan kepada ketua RT agar datang ke
rumahnya, yang terjadi adalah
kontak sekunder tidak langsung.
2. Komunikasi
Komunikasi adalah perilaku orang (pergerakan fisik,
sikap, perasaan-perasaan) yang ingin disampaikan oleh orang lain yang
bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap reaksi orang lain tersebut. Suatu
kontak tidak akan terjadi tanpa adanya komunikasi.
Komunikasi merupakan syarat terjadinya interaksi
sosial. Hal terpenting dalam komunikasi
yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan perilaku dan perasaan-perasaan yang
disampaikan.
Ada lima unsur pokok dalam komunikasi
yaitu sebagai berikut.
1) Komunikator, yaitu orang yang
menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak
lain.
2) Komunikan,
yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, atau perasaan.
3) Pesan, yaitu
sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan dapat berupa informasi, instruksi, dan perasaan.
4) Media, yaitu
alat untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi dapat berupa lisan, tulisan,
gambar, dan film
5) Efek, yaitu perubahan yang
diharapkan terjadi pada komunikan, setelah mendapatkan pesan
dari komunikator.
Ada tiga
tahap penting dalam proses komunikasi. Ketiga tahap tersebut adalah sebagai berikut.
a) Encoding
Pada
tahap ini, gagasan atau program yang akan dikomunikasikan dan diwujudkan dalam kalimat atau
gambar. Dalam tahap ini, komunikator harus memilih kata, istilah, kalimat, dan gambar yang mudah dipahami oleh
komunikan. Komunikator harus menghindari penggunaan kode-kode yang
membingungkan komunikan.
b)
Penyampaian
Pada
tahap ini, istilah atau gagasan yang sudah diwujudkan dalam bentuk kalimat dan gambar disampaikan. Penyampaian
dapat berupa lisan, tulisan, dan gabungan
dari keduanya.
c) Decoding
Pada
tahap ini dilakukan proses mencerna dan memahami kalimat serta gambar yang diterima menurut pengalaman
yang dimiliki.
2.5
Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Hubungan yang terjadi antar warga masyarakat
berlangsung sepanjang waktu. Rentang waktu yang panjang serta banyaknya warga
yang terlibat dalam hubungan antarwarga melahirkan berbagai bentuk interaksi sosial. Dimana pun
dan kapan pun kehidupan sosial selalu diwarnai oleh dua kecenderungan yang
saling bertolak belakang. Di satu sisi manusia berinteraksi untuk saling
bekerja sama, menghargai, menghormati, hidup rukun, dan bergotong royong. Di
sisi lain, manusia berinteraksi dalam bentuk pertikaian, peperangan, tidak
adanya rasa saling memiliki, dan lain-lain. Dengan demikian interaksi sosial
mempunyai dua bentuk, yakni interaksi sosial yang
mengarah
pada bentuk penyatuan (proses asosiatif) dan mengarah pada bentuk pemisahan (proses
disosiatif).
1.
Proses Asosiasi
Interaksi
sosial asosiatif adalah bentuk interaksi sosial yang menghasilkan kerja sama.
Ada beberapa bentuk interaksi sosial
asosiatif, antara lain sebagai berikut.
a.
Ke rjasama (Cooperation)
Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara
orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau
beberapa tujuan bersama. Kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka
mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama
dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian
terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut,
kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi
merupakan fakta-fakta yang penting
dalam kerja sama yang berguna.
Ada beberapa bentuk interaksi sosial yang berupa kerja
sama, yaitu :
1)
Bargaining adalah
pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang atau jasa antara dua organisasi atau
lebih.
2)
Cooptation (kooptasi) adalah
suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan
atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi untuk menghindari kegoncangan dalam stabilitas organisasi
yang bersangkutan.
3)
Coalition (koalisi) adalah
kerja sama yang dilaksanakan oleh dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Koalisi dapat
menghasilkan keadaan yang tidak stabil
untuk sementara waktu, karena dua organisasi atau lebih tersebut mungkin mempunyai struktur yang berbeda satu sama
lain
4)
Join venture adalah kerja sama dengan pengusaha proyek tertentu
untuk menghasilkan keuntungan
yang akan dibagi menurut proporsi tertentu. Join
venture jika diterjemahkan akan
menjadi ‘usaha patungan’.
b. Akomodasi (Accomodation)
Akomodasi adalah suatu proses
dimana orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang mula-mula saling
bertentangan, saling mengadakan penyesuaian
diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Bentuk-bentuk akomodasi adalah
sebagai berikut :
1)
Tolerant participation (toleransi) adalah
suatu watak seseorang atau kelompok untuk
sedapat mungkin menghindari perselisihan. Individu semacam itu disebut tolerant.
2) Compromise (kompromi) adalah
suatu bentuk akomodasi dimana masing-masing pihak
mengerti pihak lain sehingga pihak-pihak yang bersangkutan mengurangi tuntutannya agar tercapai penyelesaiannya
terhadap perselisihan. Kompromi dapat pula
disebut perundingan.
3) Coercion (koersi) adalah
bentuk akomodasi yang proses pelaksanaannya menggunakan
paksaan. Pemaksaan terjadi bila satu pihak menduduki posisi kuat, sedangkan pihak lain dalam posisi lemah.
4)
Arbitration adalah
proses akomodasi yang proses pelaksanaannya menggunakan pihak ketiga dengan kedudukan yang lebih tinggi dari kedua
belah pihak yang bertentangan.
Penentuan pihak ketiga harus disepakati oleh dua pihak yang berkonflik. Keputusan pihak ketiga ini
bersifat mengikat.
5) Mediation (mediasi) adalah
menggunakan pihak ketiga yang netral untuk menyelesaikan
kedua belah pihak yang bertikai. Berbeda dengan arbitration, keputusan
pihak ketiga ini bersifat tidak
mengikat.
6)
Concilation adalah
suatu usaha untuk mempertemukan keinginan yang berselisih agar tercapai persetujuan bersama.
Biasanya dilakukan melalui perundingan
7.) Ajudication adalah
penyelesaian perkara melalui pengadilan. Pada umumnya cara ini ditempuh sebagai alternatif terakhir
dalam penyelesaian konflik.
8) Stalemate adalah suatu akomodasi semacam balance of power (politik keseimbangan) sehingga kedua belah pihak yang
berselisih sampai pada titik kekuatan yang
seimbang. Posisi itu sama dengan zero
option (titik nol) yang sama-sama mengurangi
kekuatan serendah mungkin. Dua belah pihak yang bertentangan tidak dapat lagi maju atau mundur.
9)
Segregasi adalah
upaya saling memisahkan diri atau saling menghindar di antara pihak-pihak yang bertentangan dalam
rangka mengurangi ketegangan.
10) Gencatan
senjata adalah penangguhan permusuhan atau peperangan dalam jangka waktu
tertentu. Masa penangguhan digunakan untuk mencari upaya penyelesaian konflik di antara pihak-pihak yang bertikai.
c.
Akulturasi
Akulturasi
adalah suatu proses yang timbul apabila suatu kelompok manusia dan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan
unsur-unsur dari kebudayaan asing dengan sedemikian rupa sehingga unsur-unsur
kebudayaan asing itu lambat laun diterima hilangnya
kepribadian kebudayaan itu sendiri. Biasanya unsur-unsur kebudayaan asing yang
mudah diterima adalah unsur kebudayaan kebendaan dam peralatan yang sangat mudahdipakai dan
dirasakan sangat bermanfaat seperti komputer,
handphone, mobil, dan lain-lain. Sedangkan
kebudayaan asing yang sulit diterima adalah unsur kebudayaan asing yang sulit
diterima adalah unsur kebudayaan yang menyangkut ideologi, keyakinan, atau n ilai
tertentu yang menyangkut prinsip hidup seperti paham komunisme, kapitalisme, lib eralisme,
dan lain-lain.
d. Asimilasi (assimilation)
Asimilasi adalah usaha mengurangi
perbedaan yang terdapat di antara beberapa orang atau kelompok serta usaha menyamakan sikap, mental, dan tindakan
demi tercapainya tujuan bersama. Contoh
asimilasi antar dua kelompok masyarakat adalah upayauntuk
membaurkan etnis Tionghoa dengan masyarakat pribumi.
2. Proses Disosiasi
Proses Interaksi sosial disosiatif merupakan
bentuk interaksi sosial yang menghasilkan sebuah perpecahan. Ada beberapa
bentuk interaksi sosial disosiatif, antara lain sebagai berikut .
a. Persaingan (competition)
Persaingan adalah proses
sosial yang ditandai dengan adanya saling berlomba atau bersaing antarindividu atau antarkelompok tanpa menggunakan
ancaman atau kekerasan untuk mengejar suatu nilai tertentu
supaya lebih maju, lebih baik, atau lebih
kuat. Contoh
persaingan adalah saat siswa bersaing untuk mendapatkan peringkat pertama atau pada saat berlangsungnya suatu pertandingan.
b. Kontravensi (contravention)
Kontravensi adalah suatu
bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan
konflik. Bentuk kontravensi ada 5 yaitu :
1. Kontravensi
yang bersifat umum. Seperti penolakan, keengganan,
gangguan terhadap pihak lain, pengacauan rencana
pihak lain, dan perbuatan kekerasan.
2. Kontravensi
yang bersifat sederhana. Seperti memaki-maki, menyangkal pihak lain,
mencerca, memfitnah, dan menyebarkan surat selebaran.
3. Kontravensi
yang bersifat intensif. Seperti penghasutan, penyebaran desas-desus, dan mengecewakan pihak lain.
4. Kontravensi
yang bersifat rahasia. Seperti mengumumkan
rahasia pihak lain dan berkhianat.
5. Kontravensi
yang bersifat taktis. Seperti intimidasi, provokasi, mengejutkan pihak lawan, dan mengganggu atau membingungkan
pihak lawan.
c.
Konflik
Konflik adalah suatu proses sosial dimana orang
perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuan
dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai
dengan ancaman atau kekerasan. Faktor-faktor penyebab terjadinya konflik adalah
1.
Adanya
perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan
2.
Berprasangka
buruk kepada pihak lain
3.
Individu
kurang bisa mengendalikan emosi
4.
Adanya
perbedaan kepentingan antara individu dan kelompok
5.
Persaingan
yang sangat tajam sehingga kontrol sosial kurang berfungsi
2.6 Pengertian Peran Sosial
Peran sosial adalah eksekusi dari
hak, kewajiban, tugas, atau tanggung jawab seseorang yang sesuai dengan status
sosialnya. Dengan demikian peran sosial ditentukan oleh status sosial. Apabila
apa yang dikerjakan oleh individu selaras dengan status atau posisinya di
masyarakat, maka individu tersebut sedang memainkan peran sosialnya.
2.7 Macam – macam Peran Sosial
Berikut macam – macam peran sosial :
·
Peran ideal
Yaitu
peran yang sesuai dengan status sosial. Biasanya peran ideal juga sesuai dengan
ekspektasi masyarakat pada umumnya. Sebagai contoh, peran ideal seorang siswa
dan mahasiswa adalah belajar. Ketika mendapat tugas sekolah atau kuliah, ia
mengerjakannya sembari menyadari peran sosialnya. Ada pula seorang siswa atau
mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas sekolah atau kuliah dan banyak mengeluh.
Orang tipe ini jelas tidak menjalankan peran idealnya.
·
Peran yang diinginkan
Yaitu peran yang dimainkan oleh
seseorang karena keinginannya sendiri. Misalnya, seorang ayah yang memainkan
perannya sebagai seorang kakak pada anaknya yang beranjak remaja. Atau seorang
bos yang berperan sebagai mentor pada karyawannya. Peran ini dimainkan karena
kehendak pribadi tanpa mempertimbangkan status sosialnya.
·
Peran yang dikerjakan
Yaitu peran ideal yang dikerjakan
atau dieksekusi. Misal, seorang presiden di Indonesia yang juga sekaligus
seorang panglima tertinggi dan kepala pemerintahan. Ia mengambil keputusan
untuk berperang atau tidak sebagai panglima tertinggi. Ia juga membuat regulasi
sebagai kepala pemerintahan. Contoh lain, seorang ayah memilih menjadi kepala
keluarga sebagai peran yang dikerjakannya. Sebagaimana yang sudah disinggung di
awal, seseorang memiliki status sosial lebih dari satu sehingga peran yang bisa
dimainkan juga lebih dari satu. Kondisi ini tak jarang mengakibatkan timbulnya konflik
peran. Bentuk konflik peran bisa berupa ketegangan, kegagalan atau kesenjangan
saat mengeksekusi peran. Berikuti ini saya paparkan contoh konflik peran sosial
dalam kehidupan sehari-hari.
2.8 Cakupan Peran Sosial
Peranan
sosial mencakup tiga hal berikut :
1. Peranan
meliputi norma-norma yang berhubungan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Contoh : sebagai
seorang pemimpin harus dapat menjadi panutan dan
suri teladan para anggotanya, karena dalam diri pemimpin tersebut tersandang aturan dan norma-norma yang sesuai dengan
posisinya.
2. Peranan
merupakan konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat. Contoh : seorang ulama, guru, dan
sebagainya harus bijaksana, baik hati, sabar,
membimbing dan menjadi panutan bagi muridnya.
3. Peranan juga
dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi
struktur sosial masyarakat. Contoh : suami, isteri, karyawan, pegawai negeri, dan sebagainya merupakan
peran-peran dalam masyarakat yang
membentuk susunan masyarakat.
2.9 Interaksi Sosial sebagai Wujud
Status dan Peranan Sosial
1)
Kedudukan
(Status) adalah posisi sosial yang merupakan tempat di mana seseorang
menjalankan kewajiban-kewajiban
dan berbagai aktivitas lain sekaligus merupakan tempat bagi seseorang untuk menanamkan harapan-harapan.
2)
Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan atau status. Peranan adalah perilaku yang
diharapkan oleh pihak lain dalam melaksanakan hal dan kewajiban sesuai dengan status yang dimilikinya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan
yang telah dipaparkan dapat dapat disimpulkan sebagai berikut.
1)
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik
antara dua orang atau lebih dan
masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara
aktif. Terdapat stimulus dan
tanggapan manusia.
2)
Menurut Tim Sosiologi (2002), ada
empat ciri - ciri interaksi sosial, antara lain : Jumlah pelakunya lebih dari
satu orang, terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial,
mempunyai maksud atau tujuan yang jelas, dilaksanakan melalui suatu pola sistem
sosial tertentu
3)
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi sosial antara lain, sugesti,
imitasi, identifikasi, simpati, empati, motivasi.
4)
Syarat-syarat terjadinya interaksi sosial adalah
kontak sosial dan komunikasi.
5)
Bentuk-bentuk interaksi sosial, antara lain proses
asosiasi dan proses disosiasi.
6)
Peran
sosial adalah eksekusi dari hak, kewajiban, tugas, atau tanggung jawab
seseorang yang sesuai dengan status sosialnya
7)
Macam
– macam peran sosial adalah peran ideal, peran yang diinginkan dan peran yang
dikerjakan
8)
Interaksi
sosial sebagai wujud status dan peranan sosial
3.2
Saran
Dalam kehidupan manusia di dunia ini tidak
akan lepas dari kehidupan masyarakat, maka kita sebagai manusia yang hidup
bermasyarakan harus menyadari bahwa
kita hidup tidak mungkin sendirian. Untuk itu marilah kita menjadi warga masyarakat yang baik dengan berinteraksi antar individu dengan individu
lain, antarindividu dengan kelompok, bahkan kelompok dengan kelompok agar
terjalin persatuan dan kesatuan dalam kehidupan
masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
Soekanto,
Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PR RajaGrafindo
Persada
Sudarma,
Momon. 2008. Sosiologi Untuk Kesehatan . Jakarta: Salemba Medika
Soyomukti,
Nurani. 2016. Pengantar Sosiologi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Setiadi,
Elly M. Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Pranamedia
Group
Waluyo,
Rohedi. 2011. “Makalah Tentang Interaksi Sosial”,
http://diyo-experience.blogspot.com/2013/12/makalah-tentang-interaksi-sosial.html.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar