Selasa, 16 April 2019

Makalah tentang Interaksi dan Peran Sosial


MAKALAH 
                  SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI KESEHATAN                              “ INTERAKSI DAN PERAN SOSIAL ”




DISUSUN OLEH :
                                              
Kelompok 2
1.
Ainul Muthemainnah Mukmin
14120180080
2.
Irna
14120180089
3.
Kurnia Tri Yanti
14120180097
4.
Laila Kadriani
14120180107

Nama Dosen :
Dr. Andi Asrina, SKM, M.Kes

PRODI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2018

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya izin, rahmat, dan kuasa Nya kami masih diberikan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Interaksi dan Peran Sosial.
Pada kesempatan ini tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terutama kepada Dosen pengajar Mata Kuliah Sosiologi dan Antropologi Kesehatan  yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita, khususnya mengenai interaksi dan peran sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan masih jauh dari apa yang diharapkan.
Untuk itu, kami berharap kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa kritik dan saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya


Makassar, 06 Maret 2019

                                                                                                                               Penyusun













DAFTAR ISI


KATA PEGANTAR.................................................................................................
i
DAFTAR ISI.............................................................................................................
ii


BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang....................................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................
1
1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................................
2


BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Interaksi Sosial..................................................................................
3
2.2 Ciri - Ciri Interaksi Sosial...................................................................................
3
2.3 Faktor - Faktor Yang Mmepengaruhi Terjadinya Interaksi Sosial.....................
3
2.4 Syarat - Syarat Interaksi Sosial...........................................................................
5
2.5 Bentuk - Bentuk Interaksi Sosial.........................................................................
7
2.6 Pengertian Peran Sosial.......................................................................................
10
2.7 Macam - Macam Peran Sosial.............................................................................
10
2.8 Cakupan Peran Sosial..........................................................................................
11
2.9 Interaksi Sosial sebagai Wujud Status dan Peranan Sosial.................................
11


BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan.........................................................................................................
12
3.2 Saran...................................................................................................................
12


DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
13











BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

                Interaksi adalah suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih objrk mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu, antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok. Guru mengajar merupakan contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok. Interaksi sosial memerlukan syarat yaitu kontak sosial dan komunikasi sosial..
            Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial meliputi imitasi, sugesti, identifikasi, simpati dan empati. Imitasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor meniru orang lain. Sugesti adalah interaksi sosial yang didasari oleh adanya pengaruh. Biasa terjadi dari yang tua ke yang muda, dokter ke pasien, guru ke murid atau bisa juga dipengaruhi karena iklan. Indentifikasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor adanya individu yang mengindentikkan (menjadi sama) dengan pihak yang lain. Contoh menyamakan kebiasaan pemain sepak bola idolanya.  Simpati adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor rasa tertarik atau kagum pada orang lain. Contoh tindakan membantu korban bencana alam. Interaksi sosial mensyaratkan adanya kontak sosial dan komunikasi sosial. Kemudian membuat terjadinya proses sosial. Proses sosial dapat bersifat asosiatif dan disasosiatif. Asosiatif meliputi akomodasi, difusi, asimilasi, akulturasi, kooperasi atau kerjasama (Intinya interaksi sosial yang baik-baik, kerjasama, rukun,  harmonis, serasa, dan lain-lain). Disasosiatif meliputi konflik, kontravensi, dan kompetensi (Intinya interaksi sosial yang tidak baik, penuh persaingan, perang dingin, bertengkar, dan lain-lain).
            Peran sosial adalah eksekusi dari hak, kewajiban, tugas, atau tanggung jawab seseorang yang sesuai dengan status sosialnya. Dengan demikian peran sosial ditentukan oleh status sosial. Apabila apa yang dikerjakan oleh individu selaras dengan status atau posisinya di masyarakat, maka individu tersebut sedang memainkan peran sosialnya.
            Peran sosial lebih dinamis ketimbang status sosial. Pada praktiknya, peran sosial tak jarang berbentuk konflik, hal ini karena individu memiliki lebih dari satu status sehingga menuntut dimainkannya lebih dari satu peran. Sebagai contoh, seorang ayah yang punya anak kecil. Ia merasa dilema antara mengasuh anaknya di rumah atau kerja di kantor. Seorang ibu juga bisa merasakan dilema yang sama.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Interaksi Sosial ?
2.      Apa saja ciri-ciri interaksi sosial?
3.      Apa faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi ?
4.      Apa syarat – syarat interaksi sosial ?
5.      Apa saja bentuk – bentuk interaksi sosial ?
6.      Apa pengertian peran sosial ?
7.      Apa macam – macam peran sosial ?
8.      Apa cakupan peran sosial ?
9.      Bagaimana interaksi sosial sebagai wujud status dan peran sosial ?

1.3              Tujuan Penulisan
Setiap penulisan sesuatu pasti mempunyai tujuan tertentu, dengan demikian juga  penulisan makalah ini penulis mempunyai tujuan :
1.         Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan interaksi sosial.
2.         Untuk mengetahui apa saja ciri – ciri interaksi sosial
3.         Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendasari terjadinya proses interaksi.
4.         Untuk mengetahai syarat-syarat interaksi sosial
5.         Untuk mengetahui bentuk-bentuk interaksi sosial
6.         Untuk mengetahui apa yang dimaksud peran sosial
7.         Untuk mengetahui macam – macam peran sosial
8.         Untuk mengetahui interaksi sosial sebagai wujud status dan peran sosial
9.         Untuk mengetahui cakupan peran sosial.
10.     Untuk menambah wawasan tentang interaksi dan peran sosial







































BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Pengertian Interaksi Sosial

            Interaksi Sosial adalah hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif. Interaksi sosial adalah tindakan, kegiatan, atau praktik dari dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai orientasi dan tujuan.
·         Pengertian Interaksi Sosial Menurut Para Ahli :
1.         Pengertian Interaksi Sosial menurut Robert M.Z. Lawang (1986)
          Interaksi sosial adalah proses ketika orang-orang yang berkomunikasi saling pengaruh – memengaruhi dalam pikiran dan tindakan.
2.         Pengertian Interaksi Sosial menurut Soerjono Soekanto
          Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang per orang dan kelompok manusia.
3.         Pengertian Interaksi sosial menurut Bonner
          Interaksi sosial (dalam Ali, 2004) merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya

2.2   Ciri – Ciri Interkasi Sosial

            Menurut Tim Sosiologi (2002), ada empat ciri - ciri interaksi sosial, antara lain :
§  Jumlah pelakunya lebih dari satu orang
§  Terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial
§  Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas
§  Dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu

2.3  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Interaksi Sosial

Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada beberapa faktor berikut ini :

A.      Imitasi
                        Imitasi merupakan tindakan manusia untuk meniru tingkah pekerti orang lain yang ada di sekitarnya, atau tindakan atau usaha untuk meniru tindakan orang lain sebagai tokoh idealnya. Imitasi cenderung secara tidak disadari dilakukan oleh seseorang. Imitasi banyak diperngaruhi oleh tingkat jangkauan inderanya, yaitu sebatas yang dilihat, didengar dan dirasakan. Sejak lahir manusia mengimitasi dirinya sendiri, seperti mengulang kata-kata melulai mulutnya, mengucapkan lafal -lafal yang tidak memiliki arti. Tindakan ini dilakukan karena dia sedang belajar melafalkan kata-kata sekaligus melatih lidahnya melalui naluri. Kemudian ia mulai mengimitasi tindakan orang lain, terutama perkataan-perkataan orang lain, seperti orang tua, saudara kandung serta orang lain di sekitarnya dengan jangkauan inderanya. Misalnya, seorang anak sering meniru kebiasaan-kebiasaan orang tuanya seperti cara bicara dan berpakaian. Manusia dalam fase ini sudah tidak hanya sekedar meniru, atau mempelajari pekerti orang lain tetapi ia sudah memiliki kemampuan analitis kritis melalui akalnya.

B.       Sugesti
                        Sugesti adalah pemberian pengaruh pandangan seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga orang tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh tersebut tanpa berpikir panjang. Sugesti biasanya dilakukan oleh orang yang berwibawa, mempunyai pengaruh besar, atau terkenal dalam masyarakat. Contoh sugesti salah satunya adalah obat yang harganya mahal yang merupakan produk impor dianggap pasti manjur menyembuhkan penyakit. Anggapan tersebut merupakan sugesti yang muncul akibat harga obat yang mahal dan embel-embel produk luar negeri. Dalam studo–studi ilmu sosial, sugesti dapat dirumuskan sebagai proses dimana seseorang menerima suatu cara penglihatan atau pedoman – pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Akan tetapi, kenyataannya tidak semua individu mampu melakukan sugesti ini, sebab ada beberapa individu yang memiliki kelainan jiwa. Bentuk kelainan jiwa ini semata – mata dipengaruhi oleh beberapa hal seperti :
§  Hambatan berpikir. Hambatan berpikir terjadi ketika hubungan di mana seseorang memberikan sugesti bersikap over pandangan sehingga orang yang dikenainya tidak diberi pertimbangan–pertimbangan atau berpikir kritis. Dalam hal ini orang yang kena sugesti menelan saja apa yang di anjurkan oleh pihak lain. Seseorang yang telah berpikir atau daya proses pikirnya dikurangi maka ia akan kecil sekali memiliki dorongan untuk berpikir kritis, sehingga menerima apa adanya.
§  Keadaan pikiran yang terpecah – pecah. Keadaan pikiran seseorang terpecah-pecah ketika di dalam pikirannya mengalami kelelahan atau sedang mengalami kelelahan atau sedang mengalami kebingungan karena menghadapi kesulitan-kesulitan sehingga dengan kelelahan pemikiran yang dialaminya ia tidak bisa berfikir.
§  Otoritas. Kecenderungan seseorang atau sekelompok orang menerima pandangan- pandangan atau sikap-sikap tertentu karena sikap dan pandangan tersebut berasal dari orang yang dianggap ahli dalam pihak otoritas.
§  Mayoritas. Dalam hal ini seseorang atau sekelompok akan menerima saja sikap atau pandangan karena dukungan banyak orang (mayoritas) terhadap sikap atau pandangan tersebut.
§  Will of believe. Dalam hal ini seseorang menerima pandangan atau pemikiran orang lain tanpa didahului oleh pemikiran dan pertimbangan karena apa yang disampaikan orang lain sudah ada dalam dirinya tetapi belum terungap atau diungkapkan

 

C.                Identifikasi
                   Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi mengakibatkan terjadinya pengaruh yang lebih dalam dari sugesti dan imitasi karena identifikasi dilakukan oleh seseorang secara sadar. Contoh identifikasi, seorang pengagum berat artis terkenal, ia sering mengidentifikasi dirinya menjadi artis idolanya dengan meniru model rambut, model pakaian, atau gaya perilakunya dan menganggap dirinya sama dengan artis tersebut.

D.                Simpati
Simpati adalah proses ketika seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Faktor utamanya adalah perasaan untuk memahami orang atau pihak lain. Akan tetapi, simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaan sebagaimana proses identifikasi. Contoh simpati adalah pada peringatan ulang tahun, pada saat lulus ujian, atau pada saat mencapai suatu prestasi. Timbulnya simpati yang muncul perlahan-lahan juga berarti bahwa gejala identifikasi dan simpati itu sebenarnya sudah berdekatan.

E.                Empati
                  Empati adalah kemampuan mengambil atau memainkan peranan secara efektif dan seseorang atau orang lain dalam konsidi yang sebenar-benarnya, seolah-olah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain tersebut seperti rasa senang, sakit, susah, dan bahagia. Empati hampir mirip dengan sikap simpati. Perbedaannya, sikap empati lebih menjiwai atau lebih terlihat secara emosional. Contoh empati adalah saat kita turut merasakan empati terhadap masyarakat Yogyakarta yang menjadi korban letusan Gunung Merapi.

2.4    Syarat-syarat Interaksi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, interaksi sosial tidak mungkin terjadi tanpa adanya dua     syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi.

 1.      Kontak Sosial
       Kontak sosial adalah hubungan masing-masing pihak dalam berinteraksi orang dengan perorangan, perorangan dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Kontak sosial bukan semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tergantung terhadap sikap yang ditunjukan individu untuk berkomunikasi dengan orang lain. Kata “kontak” (contact) berasal dari bahasa latin con atau cum yang artinya bersama-sama dan tangere yang artinya menyentuh. Jadi, kontak berarti bersama-sama menyentuh. Dalam pengertian sosiologi, kontak sosial tidak selalu terjadi melalui interaksi atau hubungan fisik, sebab orang bisa melakukan kontak sosial dengan pihak lain tanpa menyentuhnya, misalnya bicara melalui telepon, radio, atau surat elektronik. Oleh karena itu, hubungan fisik tidak menjadi syarat utama terjadinya kontak. Kontak sosial memiliki sifat-sifat berikut.
A.     Kontak sosial dapat bersifat positif atau negatif.
·        Kontak sosial positif mengarah pada suatu kerja sama.
·        Kontak sosial negatif mengarah pada suatu pertentangan atau konflik.

B.   Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder
    ·        Kontak sosial primer terjadi apabila para peserta interaksi bertemu muka secara         langsung.         Misalnya, kontak antara guru dan murid di dalam kelas, penjual dan    pembeli di pasar          tradisional, atau pertemuan ayah dan anak di meja makan.
          ·        Kontak sekunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui suatu perantara.          Misalnya,         percakapan melalui telepon. Kontak sekunder dapat dilakukan secara     langsung dan   tidak langsung. Kontak sekunder langsung misalnya terjadi saat ketua   RW mengundang        ketua RT datang ke rumahnya melalui telepon. Sementara jika             Ketua RW menyuruh sekretarisnya menyampaikan pesan kepada ketua RT agar    datang ke rumahnya, yang           terjadi adalah kontak sekunder tidak langsung.

      2.      Komunikasi
Komunikasi adalah perilaku orang (pergerakan fisik, sikap, perasaan-perasaan) yang ingin disampaikan oleh orang lain yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap reaksi orang lain tersebut. Suatu kontak tidak akan terjadi tanpa adanya komunikasi.
Komunikasi merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting dalam   komunikasi yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan perilaku dan perasaan-perasaan yang disampaikan.
       Ada lima unsur pokok dalam komunikasi yaitu sebagai berikut.
             1)  Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada                       pihak lain.
             2)   Komunikan, yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, atau                          perasaan.
             3)    Pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan dapat berupa                                informasi, instruksi, dan perasaan.
             4)    Media, yaitu alat untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi dapat berupa lisan,                     tulisan, gambar, dan film  
             5)  Efek, yaitu perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan, setelah mendapatkan                   pesan dari komunikator.
Ada tiga tahap penting dalam proses komunikasi. Ketiga tahap tersebut adalah  sebagai berikut.
                  a)      Encoding
                        Pada tahap ini, gagasan atau program yang akan dikomunikasikan dan                    diwujudkan dalam kalimat atau gambar. Dalam tahap ini, komunikator harus memilih   kata, istilah, kalimat, dan gambar yang mudah dipahami oleh komunikan.      Komunikator   harus menghindari penggunaan kode-kode yang membingungkan             komunikan.
                  b)      Penyampaian
                        Pada tahap ini, istilah atau gagasan yang sudah diwujudkan dalam bentuk kalimat dan gambar disampaikan. Penyampaian dapat berupa lisan, tulisan, dan gabungan dari             keduanya.

                  c)      Decoding
                        Pada tahap ini dilakukan proses mencerna dan memahami kalimat serta       gambar yang diterima menurut pengalaman yang dimiliki.

2.5   Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Hubungan yang terjadi antar warga masyarakat berlangsung sepanjang waktu. Rentang waktu yang panjang serta banyaknya warga yang terlibat dalam hubungan antarwarga melahirkan berbagai bentuk interaksi sosial. Dimana pun dan kapan pun kehidupan sosial selalu diwarnai oleh dua kecenderungan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi manusia berinteraksi untuk saling bekerja sama, menghargai, menghormati, hidup rukun, dan bergotong royong. Di sisi lain, manusia berinteraksi dalam bentuk pertikaian, peperangan, tidak adanya rasa saling memiliki, dan lain-lain. Dengan demikian interaksi sosial mempunyai dua bentuk, yakni interaksi sosial yang
mengarah pada bentuk penyatuan (proses asosiatif) dan mengarah pada bentuk pemisahan (proses disosiatif).

      1.      Proses Asosiasi
          Interaksi sosial asosiatif adalah bentuk interaksi sosial yang menghasilkan kerja sama. Ada   beberapa bentuk interaksi sosial asosiatif, antara lain sebagai berikut.

      a.       Ke rjasama (Cooperation)
          Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang  sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut, kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang    penting dalam kerja sama yang berguna.

Ada beberapa bentuk interaksi sosial yang berupa kerja sama, yaitu :
                  1)      Bargaining adalah pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang             atau jasa antara dua organisasi atau lebih.
                  2)      Cooptation (kooptasi) adalah suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam            kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi untuk menghindari         kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.
                  3)      Coalition (koalisi) adalah kerja sama yang dilaksanakan oleh dua organisasi atau          lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang    tidak stabil untuk sementara waktu, karena dua organisasi atau lebih tersebut mungkin     mempunyai struktur yang berbeda satu sama lain     
                  4) Join venture adalah kerja sama dengan pengusaha proyek tertentu untuk            menghasilkan keuntungan yang akan dibagi menurut proporsi tertentu. Join venture      jika diterjemahkan akan menjadi ‘usaha patungan’.


      b.      Akomodasi (Accomodation)
                  Akomodasi adalah suatu proses dimana orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang mula-mula saling bertentangan, saling mengadakan         penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Bentuk-bentuk akomodasi adalah sebagai berikut :
                  1)      Tolerant participation (toleransi) adalah suatu watak seseorang atau kelompok            untuk sedapat mungkin menghindari perselisihan. Individu semacam itu disebut    tolerant.
                  2)     Compromise (kompromi) adalah suatu bentuk akomodasi dimana masing-masing       pihak mengerti pihak lain sehingga pihak-pihak yang bersangkutan mengurangi       tuntutannya agar tercapai penyelesaiannya terhadap perselisihan. Kompromi dapat         pula disebut perundingan.
                  3)     Coercion (koersi) adalah bentuk akomodasi yang proses pelaksanaannya          menggunakan paksaan. Pemaksaan terjadi bila satu pihak menduduki posisi kuat,     sedangkan pihak lain dalam posisi lemah.
                  4)      Arbitration adalah proses akomodasi yang proses pelaksanaannya menggunakan          pihak ketiga dengan kedudukan yang lebih tinggi dari kedua belah pihak yang    bertentangan. Penentuan pihak ketiga harus disepakati oleh dua pihak yang           berkonflik. Keputusan pihak ketiga ini bersifat mengikat.
                  5)     Mediation (mediasi) adalah menggunakan pihak ketiga yang netral untuk         menyelesaikan kedua belah pihak yang bertikai. Berbeda dengan arbitration,         keputusan        pihak ketiga ini bersifat tidak mengikat.
                  6)      Concilation adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan yang berselisih         agar tercapai persetujuan bersama. Biasanya dilakukan melalui perundingan   
                  7.)  Ajudication adalah penyelesaian perkara melalui pengadilan. Pada umumnya cara        ini ditempuh sebagai alternatif terakhir dalam penyelesaian konflik.
                  8)     Stalemate adalah suatu akomodasi semacam balance of power (politik   keseimbangan) sehingga kedua belah pihak yang berselisih sampai pada titik kekuatan          yang seimbang. Posisi itu sama dengan zero option (titik nol) yang sama-sama   mengurangi kekuatan serendah mungkin. Dua belah pihak yang bertentangan tidak             dapat lagi maju atau mundur.
                  9)      Segregasi adalah upaya saling memisahkan diri atau saling menghindar di antara          pihak-pihak yang bertentangan dalam rangka mengurangi ketegangan.
                  10)  Gencatan senjata adalah penangguhan permusuhan atau peperangan dalam      jangka waktu tertentu. Masa penangguhan digunakan untuk mencari upaya             penyelesaian    konflik di antara pihak-pihak yang bertikai.

      c.       Akulturasi
     Akulturasi adalah suatu proses yang timbul apabila suatu kelompok manusia dan       kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari kebudayaan asing dengan sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima             hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Biasanya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah unsur kebudayaan kebendaan dam peralatan yang             sangat             mudahdipakai             dan dirasakan sangat bermanfaat seperti komputer, handphone, mobil, dan lain-lain.             Sedangkan kebudayaan asing yang sulit diterima adalah unsur kebudayaan asing yang sulit diterima adalah unsur kebudayaan yang menyangkut ideologi, keyakinan, atau n     ilai tertentu yang menyangkut prinsip hidup seperti paham komunisme, kapitalisme, lib    eralisme, dan lain-lain.

      d.      Asimilasi (assimilation)
                   Asimilasi adalah usaha mengurangi perbedaan yang terdapat di antara beberapa orang      atau kelompok serta usaha menyamakan sikap, mental, dan tindakan demi   tercapainya tujuan bersama. Contoh asimilasi antar dua kelompok masyarakat adalah upayauntuk membaurkan etnis Tionghoa dengan masyarakat pribumi.   

2.  Proses Disosiasi
            Proses Interaksi sosial disosiatif merupakan bentuk interaksi sosial yang menghasilkan sebuah perpecahan. Ada beberapa bentuk interaksi sosial disosiatif, antara lain sebagai berikut .
a.   Persaingan (competition)
                Persaingan adalah proses sosial yang ditandai dengan adanya saling berlomba atau         bersaing antarindividu atau antarkelompok tanpa menggunakan ancaman atau          kekerasan        untuk mengejar suatu nilai tertentu supaya lebih maju, lebih baik, atau    lebih kuat.       Contoh persaingan adalah saat siswa bersaing untuk             mendapatkan peringkat pertama atau pada saat         berlangsungnya suatu pertandingan.
b. Kontravensi (contravention)
                 Kontravensi adalah suatu bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan            dan konflik. Bentuk kontravensi ada 5 yaitu :
                  1.     Kontravensi yang bersifat umum. Seperti penolakan, keengganan, gangguan                       terhadap pihak lain, pengacauan rencana pihak lain, dan perbuatan kekerasan.
                  2.     Kontravensi yang bersifat sederhana. Seperti memaki-maki, menyangkal pihak       lain, mencerca, memfitnah, dan menyebarkan surat selebaran.
                  3.     Kontravensi yang bersifat intensif. Seperti penghasutan, penyebaran desas-desus,               dan mengecewakan pihak lain.
                  4.     Kontravensi yang bersifat rahasia. Seperti mengumumkan rahasia pihak lain dan                 berkhianat.
                  5.     Kontravensi yang bersifat taktis. Seperti intimidasi, provokasi, mengejutkan pihak              lawan, dan mengganggu atau membingungkan pihak lawan.

c.   Konflik
               Konflik adalah suatu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok         manusia berusaha untuk memenuhi tujuan dengan jalan menantang pihak lawan yang            disertai dengan ancaman atau kekerasan. Faktor-faktor penyebab terjadinya konflik     adalah
                  1.      Adanya perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan
                  2.      Berprasangka buruk kepada pihak lain
                  3.      Individu kurang bisa mengendalikan emosi
                  4.      Adanya perbedaan kepentingan antara individu dan kelompok
                  5.      Persaingan yang sangat tajam sehingga kontrol sosial kurang berfungsi

2.6   Pengertian Peran Sosial
            Peran sosial adalah eksekusi dari hak, kewajiban, tugas, atau tanggung jawab seseorang yang sesuai dengan status sosialnya. Dengan demikian peran sosial ditentukan oleh status sosial. Apabila apa yang dikerjakan oleh individu selaras dengan status atau posisinya di masyarakat, maka individu tersebut sedang memainkan peran sosialnya.

2.7   Macam – macam Peran Sosial
             Berikut macam – macam peran sosial :
·            Peran ideal
   Yaitu peran yang sesuai dengan status sosial. Biasanya peran ideal juga sesuai dengan ekspektasi masyarakat pada umumnya. Sebagai contoh, peran ideal seorang siswa dan mahasiswa adalah belajar. Ketika mendapat tugas sekolah atau kuliah, ia mengerjakannya sembari menyadari peran sosialnya. Ada pula seorang siswa atau mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas sekolah atau kuliah dan banyak mengeluh. Orang tipe ini jelas tidak menjalankan peran idealnya.
·            Peran yang diinginkan
Yaitu peran yang dimainkan oleh seseorang karena keinginannya sendiri. Misalnya, seorang ayah yang memainkan perannya sebagai seorang kakak pada anaknya yang beranjak remaja. Atau seorang bos yang berperan sebagai mentor pada karyawannya. Peran ini dimainkan karena kehendak pribadi tanpa mempertimbangkan status sosialnya.
·            Peran yang dikerjakan
Yaitu peran ideal yang dikerjakan atau dieksekusi. Misal, seorang presiden di Indonesia yang juga sekaligus seorang panglima tertinggi dan kepala pemerintahan. Ia mengambil keputusan untuk berperang atau tidak sebagai panglima tertinggi. Ia juga membuat regulasi sebagai kepala pemerintahan. Contoh lain, seorang ayah memilih menjadi kepala keluarga sebagai peran yang dikerjakannya. Sebagaimana yang sudah disinggung di awal, seseorang memiliki status sosial lebih dari satu sehingga peran yang bisa dimainkan juga lebih dari satu. Kondisi ini tak jarang mengakibatkan timbulnya konflik peran. Bentuk konflik peran bisa berupa ketegangan, kegagalan atau kesenjangan saat mengeksekusi peran. Berikuti ini saya paparkan contoh konflik peran sosial dalam kehidupan sehari-hari.
2.8   Cakupan Peran Sosial
               Peranan sosial mencakup tiga hal berikut :
1.      Peranan meliputi norma-norma yang berhubungan dengan posisi atau tempat seseorang         dalam masyarakat. Contoh : sebagai seorang pemimpin harus dapat menjadi panutan    dan suri teladan para anggotanya, karena dalam diri pemimpin tersebut tersandang      aturan dan norma-norma yang sesuai dengan posisinya.
2.      Peranan merupakan konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam    masyarakat. Contoh : seorang ulama, guru, dan sebagainya harus bijaksana, baik hati,        sabar, membimbing dan menjadi panutan bagi muridnya.
3.      Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang dapat dikatakan sebagai           perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat. Contoh : suami, isteri,            karyawan, pegawai negeri, dan sebagainya merupakan peran-peran dalam masyarakat           yang membentuk susunan masyarakat.

2.9   Interaksi Sosial sebagai Wujud Status dan Peranan Sosial
          1)          Kedudukan (Status) adalah posisi sosial yang merupakan tempat di mana seseorang           menjalankan kewajiban-kewajiban dan berbagai aktivitas lain sekaligus merupakan          tempat bagi seseorang untuk menanamkan harapan-harapan.
          2)      Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan atau status. Peranan adalah perilaku yang diharapkan oleh pihak lain dalam melaksanakan hal dan kewajiban sesuai      dengan status yang dimilikinya.














BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan
                 Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dipaparkan dapat dapat disimpulkan                                    sebagai berikut.
1)        Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih dan  masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif.                      Terdapat stimulus dan tanggapan manusia.
2)        Menurut Tim Sosiologi (2002), ada empat ciri - ciri interaksi sosial, antara lain : Jumlah pelakunya lebih dari satu orang, terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial, mempunyai maksud atau tujuan yang jelas, dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu
3)        Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi sosial antara lain, sugesti, imitasi, identifikasi, simpati, empati, motivasi.
4)        Syarat-syarat terjadinya interaksi sosial adalah kontak sosial dan komunikasi.
5)        Bentuk-bentuk interaksi sosial, antara lain proses asosiasi dan proses disosiasi.
6)        Peran sosial adalah eksekusi dari hak, kewajiban, tugas, atau tanggung jawab seseorang yang sesuai dengan status sosialnya
7)        Macam – macam peran sosial adalah peran ideal, peran yang diinginkan dan peran yang dikerjakan
8)         Interaksi sosial sebagai wujud status dan peranan sosial

3.2            Saran
            Dalam kehidupan manusia di dunia ini tidak akan lepas dari kehidupan masyarakat,     maka kita sebagai manusia yang hidup bermasyarakan harus      menyadari       bahwa kita hidup tidak mungkin sendirian. Untuk itu marilah kita     menjadi warga masyarakat yang baik  dengan berinteraksi antar individu    dengan            individu lain, antarindividu dengan kelompok, bahkan kelompok dengan      kelompok        agar terjalin persatuan dan kesatuan dalam           kehidupan masyarakat
















DAFTAR PUSTAKA

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PR RajaGrafindo Persada

Sudarma, Momon. 2008. Sosiologi Untuk Kesehatan . Jakarta: Salemba Medika

Soyomukti, Nurani. 2016. Pengantar Sosiologi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Setiadi, Elly M. Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Pranamedia Group

Waluyo, Rohedi. 2011. “Makalah Tentang Interaksi Sosial”, http://diyo-experience.blogspot.com/2013/12/makalah-tentang-interaksi-sosial.html.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar