MAKALAH AQIDAH
PENGARUH SHOLAT DALAM KEHIDUPAN
Kelompok 2:
1.
Ainul
Muthemainnah Mukmin – 14120180080
2.
Sri Surma Novia
– 14120180081
3.
Nur Syach Dewi
Latampung – 14120180082
4.
Yudhira Azzahra
- 14120180083
5.
Harlisa –
14120180084
6.
Santina –
14120180085
Nama
Dosen :
Dr.
H. Nukman, MA
FAKULTAS
KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS
MUSLIM INDONESIA
2018
KATA
PENGANTAR
Puji serta syukur kami panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan begitu banyak nikmat yang mana
makhluk-Nya pun tidak akan menyadari begitu banyak nikmat yang telah di dapatkan dari Allah SWT.
Selain itu, kami juga merasa sangat bersyukur karena
telah mendapatkan hidayah-Nya baik kesehatan maupun pikiran.
Dengan nikmat dan hidayah-Nya pula
kami dapat menyelesaikan penulisan tugas mata kuliah Aqidah dengan topik
Pengaruh Sholat dalam Kehidupan. Kami sampaikan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. H. Nukman, MA selaku dosen pengajar mata pelajaran Aqidah serta
semua pihak yang turut membantu proses penyusunan makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih
begitu banyak kekurangan dan kesalahan baik isinya maupun struktur
penulisannya, oleh karena itu kami
sangat mengharap kritik dan saran positif untuk perbaikan di kemudian hari.
Demikian semoga makalah ini memberikan manfaat umumnya
pada para pembaca dan khususnya bagi kami.
Makassar,
01 Oktober 2018
Kelompok 2
DAFTAR ISI
|
Kata Pengantar ................................................................................................................i
|
Daftar Isi .........................................................................................................................ii
|
BAB I PENDAHULUAN
|
1.1 Latar Belakang .........................................................................................................
1
|
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................
2
|
1.3 Tujuan Penulisan
......................................................................................................2
|
BAB II PEMBAHASAN
|
2.1 Landasan Teori .......................................................................................................
3
|
2.2 Manfaat dalam Gerakan sholat
.................................................................................4
|
2.3 Hubungan Sholat dan Fisik
......................................................................................
6
2.3 Hubungan Sholat dengan Mental dan Kecerdasan
.................................................. 6
|
2.4 Shalat Sebagai Komunikasi Spiritual dengan
Pencipta ........................................... 8
|
2.5 Keutamaan Shalat
....................................................................................................
9
|
BAB III PENUTUP
|
3.1 Kesimpulan ............................................................................................................
10
|
3.2 Saran
......................................................................................................................
10
|
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................
11
|
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam
agama islam ada sebuah kitab yang didalamnya itu sendiri merupakan wahyu-wahyu
(ucapan/perkataan) Allah SWT yang diturunkan melalui para Nabi dan
Rosulnya. Pelaksanaannya
dijelaskan dalam sabda rosul, baik berupa gerak-gerik dan perbuatan beliau
semasa hidup. Sebagaimana
semua ibadah dalam islam, di samping mempunyai segi kerohanian untuk menjaga
hubungan dampak kejiwaan pribadi dengan Allah, ibadah shalat juga mempunyai
dampak kejiwaan, sosial, dan lain sebagainya dalam kehidupan bermasyarakat.
Agama adalah hal pokok dalam kehidupan
manusia apalagi bermasyarakat. Sholat dapat dilakukan secara individual, tetapi
lebih baik apabila dilakukan secara berjamaah dan terutama di masjid. Masjid
adalah tempat ibadah nya orang islam. Masjid tempat penting yang digunakaan
sebagai tempat beribadah dan disebut juga rumah Allah. Hal ini tentu saja
karena manfaat terhadap masyarakat. Hikmah yang utama itu menunjukkan keutuhan
masyarakat islam dalam bahu membahu menyembah Allah.
Suara azan yang
dikumandangkan sebelum melakukan shalat itu sebagai pemberitahuan telah
masuknya waktu shalat. Hal itu mengandung hikmah bahwa masyarakat diingatkan
dalam lima waktu sehari semalam akan kebesaran Allah, agar segera berhubungan
dengan Allah melalui shalat. Masyarakat diminta sejenak untuk meninggalkan
pekerjaan yang sedang dilakukan untuk mengingat Allah. Dan pengaruh
sholat dalam kehidupan sehari-hari sangatlah banyak, baik dalam segi makna
bacaan sholat dan pengaruh sholat dalam kesehatan, adapun pengaruh sholat dalam
segi bacaan, makna dan hikmah disetiap gerak-gerik sholat ada banyak.
Hasan berkata bahwa Amir
bin Abdillah pernah mendengar apa yang di ingat oleh sebagian orang tentang
urusan pekerjaan mereka ketika sedang melakukan sholat.”Apa kalian
menemukanya?” tanya Amir. “ya,” jawab mereka. Lalu dia berkata, “ Demi Allah,
aku lebih suka perutku di tusuk dengan tombak dari berbagai arah dari pada aku
di kuasai oleh hawa nafsuku ketika sholat.
Karena
sholat adalah ibadah mahdhah atau ritual, maka dasar dan tata caranya harus
sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Siapapun yang melaksanakannya
harus melakukan sesuai yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu,
mari kita hayati setiap proses yang menghantarkan kita menuju sholat yang
sempurna dan penuh makna.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah
shalat dapat dijadikan pengobatan dan menjaga kesehatan ?
1.2.2 Apakah
hubungan shalat dengan fisik ?
1.2.3 Apakah hubungan shalat dengan mental dan
kecerdasan?
1.2.4 Bagaimana sholat dapat dijadikan komunikasi
spiritual dengan Sang Pencipta?
1.2.5 Mengapa sholat dilaksanakan 5 kali dalam
sehari ?
1.3
Tujuan Penulisan
1.3.1
Shalat dijadikan pengobatan dan menjaga kesehatan
1.3.2 Hubungan shalat dengan fisik
1.3.3 Hubungan shalat dengan mental dan
kecerdasan
1.3.4 Sholat dapat dijadikan komunikasi spiritual
dengan Sang Pencipta
1.3.5 Sholat dilaksanakan 5 kali dalam sehari
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1 Landasan
Teori
Sholat bukan
semata-mata terdetik didalam hati adalah sebuah kegiatan ritual agama belaka,
namun itu lebih luas jangka dan daya cakupnya. Terlalu memandang kecil kalaulah
kita beranggapan bahwa semua kegiatan sholat hanya gerakan takbir hingga salam
itu tidak mempunyai rahasia besar. Akan tetapi kandungan gerakkan itu dan
cakupannya bisa memberikan makna dalam kehidupan kita sehari-hari. Dia bisa
membuat kepada pembahuran jiwa dan pembersihan rohani, apabila kesatuan gerak
dalam sholat sudah tertanam dalam jiwa akan keluar dari dirinya sinar
ketakutan, kekhusuan dan tawadu'.
Manusia
dalam kehidupan yang sebenar bukan terlihat dari bentuk secara zahir saja
sebagaimana para mahluk lainya, akan tetapi kehidupan manusia di lihat sejauh
mana hati di hiasi dengan keimanan, ma'rifat Allah dan akidah tauhid yang
benar. Sebagaimana disebutkan dalam al qur'an.
Sebagaimana
telah di syariatkan pada malam Isra dan mi'raj, hal ini merupakan sebuah
penghormatan bagi umat islam khususnya. Seakan ketika melaksanakan sholat kita
merasakan bahwa ruh ini menuju kelangit kepada Rabbnya sehingga menambahkan
keimanan dan ketaqwaan.Kita harus menduduki sholat itu bagaikan kepala pada
tubuh kita, artian kata dia sebagai tiang, penopang dan penyangga dari pada
tubuh. Dan melihat seorang muslim atau tidaknya terletak dalam hal ini. Sholat
ini adalah sebuah kunci keberhasilan juga sebagai tameng keimanan seorang muslim
serta menghubungkan antara hamba dengan Rabbnya secara vertikal.
Dalam
menjalankan sholat itu bukan saja menghadirkan jiwa raga saja akan tetapi hati
inipun perlu kita hadirkan. Maka untuk menghadirkan dan menghidupi hati ada
beberapa cara:
2.1.1
Membesarkan dan mengagungkan Allah semata, merasa bahwa diri penuh dengan
segala kemaksiatan dan tidak mempunyai sesuatu yang bisa untuk dibanggakan di
depan kekuasaan Allah.
2.1.2
Sebelum menyucapkan takbir hamba menyadari bahwa Allah mengetahui isi hati yang
terkandung didalam jiwa luar dan batin.
2.1.3
Mengingat akan contoh dan pelajaran yang di contohkan bahwa Allah itu maha
kuasa. Seperti, ketika seorang hamba dipanggil ke suatu istana otomatis dirinya
harus mempersiapkan segalanya dengan semaksimal mungkin, sampai pada
pembicaraan pun sangat hati-hati. Sehingga tiada kata terucap tanpa kontrol.
2.1.4
Menghindari tempat yang ramai, bising dan ribut
ketika kita ingin shalat. Karena menggangu konsentrasi untuk menghadirkan
ruhnya untuk menyembah kepada Allah.
2.1.5
Menghilangkan hubungan erat antara hawa
nafsu dan konflik didalamnya
2.1.6
Faham
serta mentadaburi akan apa yang dibaca dan dengar.
2.1.7
Bahwa shalat haruslah dengan akal sehat dan hati sehat.
2.1.8
Syaitan sebagai penutup konsentrasi kita dalam menghadirkan hati.
Untuk
sholatpun kita harus dalam keadaaan bersih, maka disyaratkan dalam sholat itu
bersih badan, tempat dan pakaian. Pada hakekatnya dengan membiaskan diri untuk
selalu bersih dan suci pada tubuh, pakaian dan tempat merupakan refleksi dari
perasaan yang tinggi dan murni dan menjaga dari pada bentuk segala najis dan
kotoran. Lain halnya dengan orang yang tidak memperhatikan kondisi ini sebab
akan bisa membawa dampak kepada perasaan dan akhlaknya dalam kehidupan
sehari-hari.
Ketika
kita berwudlu maka sebagian anggota badan akan terhapuskan dari kotoran dan
debu. Selaras dengan itu terhapuslah segala kemaksiatan dan dosa-dosa yang
dikerjakan dari seluruh anggota tubuh. Dan terbukti bila memang sang hamba
benar-benar meyakini dan mengamalkan hadist rasul
Rasul
bersabda :
"
barang siapa berwudlu dengan sebaik-baiknya maka keluarlah kesalahan-kesalahan
atau dosa-dosa dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kukunya"
Bahwa
kebersihan yang dimaksud disini adalah bersih dari pada yang dzahir dan batin,
mengumpulkan kotoran berupa dosa dan kesalahan dengan bertaubat dan
beristigfar. Berazam untuk tidak kembali lagi mengulang perbuatan tersebut.
Sehingga ketika sholat tubuh ini benar bersih dibarengi dengan hatinya.
2.2 Manfaat
dalam Gerakan Sholat
Selain
melaksanakan perintah agama, mengobati kerinduan jiwa pada sang Pencipta,
sholat juga punya efek yaitu menyehatkan tubuh. Seorang pakar ilmu pengobatan
tradisional, Prof H Muhammad Hembing Wijayakusuma, telah melakukan penelitian
yang mendalam tentang hal itu. Hasil penelitian itu disebarkannya kepada umat
Islam, baik melalui media massa maupun buku yang berjudul “Hikmah Sholat untuk
Pengobatan dan Kesehatan”. Bahkan, duduk Tasyahud diyakini bisa menyembuhkan
penyakit tanpa operasi.
Apa
hubungan sholat dengan kesehatan ? menurut Hembing, setiap gerakan-gerakan
shalat mempunyai arti khusus bagi kesehatan dan punya pengaruh pada
bagian-bagian tubuh seperti kaki, ruas tulang punggung, otak, lambung, rongga
dada, pangkal paha, leher, dll. Berikut adalah ringkasan yang bermanfaat untuk
mengetahui tentang daya penyembuhan di balik pelaksanaan sholat sebagai
aktivitas spiritual.
2.2.1 Berdiri tegak dalam sholat
Gerakan-gerakan
sholat bila dilakukan dengan benar, selain menjadi latihan yang menyehatkan
juga mampu mencegah dan meyembuhkan berbagai macam penyakit. Hembing menemukan
bahwa berdiri tegak pada waktu sholat membuat seluruh saraf menjadi satu titik
pusat pada otak, jantung, paru-paru, pinggang, dan tulang pungggung lurus dan
bekerja secara normal, kedua kaki yang tegak lurus pada posisi akupuntur,
sangat bermanfaat bagi kesehatan seluruh tubuh.
2.2.2 Rukuk
Rukuk
juga sangat baik untuk menghindari penyakit yang menyerang ruas tulang belakang
yang terdiri dari tulang punggung, tulang leher, tulang pinggang dan ruas
tulang tungging. Dengan melakukan rukuk, kita telah menarik, menggerakan dan
mengendurkan saraf-saraf yang berada di otak, punggung dan lain-lain. Bayangkan
bila kita menjalankan sholat lima waktu yang berjumlah 17 rakaat sehari
semalam. Kalau rakaat kita rukuk satu kali, berarti kita melakukan gerakan ini
sebanyak 17 kali.
2.2.3
Sujud
Belum
lagi gerakan sujud yang setiap rakaat dua kali hingga junlahnya sehari 34 kali.
Bersujud dengan meletakan jari-jari tangan di depan lutut membuat semua otot
berkontraksi. Gerakan ini bukan saja membuat otot-otot itu akan menjadi besar
dan kuat, tetapi juga membuat pembuluh darah dan urat-urat getah bening
terpijat dan terurut. Posisi sujud ini juga sangat membantu kerja jantung dan
menghindari mengerutnya dinding-dinding pembuluh darah.
2.2.4
Duduk tasyahud
Duduk
tasyahud akhir atau tawaruk adalah salah satu anugerah Allah yang patut kita
syukuri, karena sikap itu merupakan penyembuhan penyakit tanpa obat dan tanpa
operasi. Posisi duduk dengan mengangkat kaki kanan dan menghadap jari-jari ke
arah kiblat ini, secara otomatis memijat pusat-pusat daerah otak, ruas tulang
punggung teratas, mata, otot-otot bahu, dan banyak lagi terdapat pada ujung
kaki. Untuk laki-laki sikap duduk ini luar biasa manfaatnya, terutama untuk kesehatan
dan kekuatan organ seks.
2.2.5
Salam
Bahkan,
gerakan salam akhir, berpaling ke kanan dan ke kiri pun, menurut penelitian
Hembing punya manfaat besar karena gerakan ini sangat bermanfaat membantu
menguatkan otot-otot leher dan kepala. Setiap mukmin pasti bisa merasakan itu,
bila ia menjalankan sholat dengan benar. Tubuh akan terasa lebih segar,
sendi-sendi dan otot akan terasa lebih kendur, dan otak juga mempu kembali
berfikir dengan terang. Hanya saja, manfaat itu ada yang bisa merasakannya
dengan sadar, ada juga yang tak disadari. Tapi harus diingat, sholat adalah
ibadah agama bukan olahraga.
2.3
Hubungan Sholat dan Fisik
Shalat
memang suplier rohani dan pemompa mental. Tanpa shalat, jiwa manusia mungkin
saja tak mampu menanggung beban dalam menjalani hidup. Bagi orang yang kerap
mengalami penderitaan, shalatlah yang menjadi tempat menumpahkan segala
permasalahan, menjadi kesempatan mengadu dan waktu mencurahkan harapan.
Bersyukurlah kita, Allah SWT mewajibkan shalat lima waktu sehari. Dalam lima
kesempatan itu artinya, kita memperoleh masukan energy baru. Mungkin kita
pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Berapa banyak orang yang menegakkan
shalat hanya memperoleh letih dan payah” ( HR Nasa’i ). Shalat yang digambarkan
Rasul dalam hadits tersebut, bukan hanya shalat yang bisa menjadi penyegar bagi
jiwa. Shalat yang hanya bersifat ritual dan tidak memberikan kenikmatan bagi
pelakunya. Shalat yang hanya gerakan fisik yang senyap dari kedamaian batin.
Orang
yang belum biasa bekerja berat, akan merasa sangat sulit bekerja mencangkul dan
mengolah sawah. Tangannya mungkin akan lecet, kulitnya terbakar oleh terik
matahari dan seluruh tubuhnya terasa linu, itu dalam konteks pekerjaan fisik.
Keadaannya tidak jauh berbeda dengan konteks pekerjaan batin. Khusyu’ adalah
pekerjaan batin, orang yang tidak terbiasa khusyu’, dekat, pasrah, tunduk pada
Allah di luar shalat, akan sulit menghadirkan kekhusyukan di dalam shalat.
Khusyu’ di dalam shalat sangat terkait dengan khusyu’ di luar shalat. Kalau hati
tidak pernah hidup, tidak ada link hubungan dengan Allah di luar shalat, tentu
sulit menjalin hubungan yang baik hanya dalam shalat. Khusyu’diwujudkan dengan hati yang senantiasa
berhubungan dengan Allah, meskipun lidah tidak menyebut nama Allah. Melihat ciptaan
Allah, hati merasakan kebesaran Allah. Karena mereka dalam kondisi terus
berdzikir dengan melihat semua fenomena alam dan hatinya mengingat Allah Jalla
Wa’ala.
Ibarat
orang yang sayang dan rindu kepada kekasihnya, setiap barang kepunyaan
kekasihterlihat di depan mata membuat hati ingat dan terkait dengan kekasih.
Kalau sudah ada benih khusyu’ di luar shalat, maka saat berwudhu pun sudah
khusyu’.
2.4
Hubungan Sholat dengan Mental dan Kecerdasan
Ibadah
shalat pasti mempunyai banyak hikmah didalamnya. Kalau kita pelajari al-Qur’an
dan as-Sunnah maka akan kita temukan penjelasan tentang hikmah dari pelaksanaan
ibadah shalat, diantaranya yaitu pengaruh pelaksanaan terhadap kesehatan mental
manusia. Dengan shalat manusia menyerahkan diri kepada-Nya, hal ini akan
membantu dalam meredakan ketegangan emosi manusia, karena seorang mukmin
mempunyai keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doanya dan memecahkan
problem-roblemnya, memenuhi berbagai macam kebutuhannya dan membebaskan diri
dari kegelisahan dan kerisauan yang menimpanya. Menghadap kepada Allah melalui
shalat dan berdoa kepada-Nya dengan harapan dikabulkan akan menimbulkan
otosugesti yang akan meredakan ketegangan emosi dan kegoncangan jiwa yang
terjadi pada manusia. Fungsi shalat yaitu :
2.4.1
Shalat sebagai sebagai pengobat
gangguan jiwa dan penyakit jiwa,
2.4.2 Fungsi ibadah shalat sebagai pembinaan
kesehatan jiwa, dan
2.4.3 Fungsi shalat sebagai pencegah gangguan
dan penyakit jiwa.
Sesungguhnya pelaku ibadah itu mengira telah menegakkan
shalat (seutuhnya), padahal tidaklah dicatat baginya (oleh malaikat Raqib
[pencatat amal baik]), kecuali setengah shalat, atau sepertiganya, atau
seperempatnya, atau seperlimanya, sampai sepersepuluhnya.” (HR.
Ahmad dan Abu Daud).
Anda
sering menunaikan shalat, bukan? Pagi-sore, siang-malam, bertahun-tahun, Anda
sudah mengerjakannya. Jutaan kali telah Anda tundukkan badan dalam ruku’ dan
sujud. Jutaan kali pula telah Anda baca bermacam-macam dzikir dan doa di dalam
shalat. Hanya saja, bagaimana kualitas shalat Anda? Dalam perhitungan atau
perkiraan Anda sendiri, seberapa besar bagian dari shalat Anda yang dinilai
baik oleh malaikat pencatat amal dan memberikan pengaruh positif pada kehidupan
Anda?
Anda
pun pasti telah tahu besarnya manfaat shalat terhadap diri Anda sendiri. Bahkan
kendati di dalam ibadah ini Anda hanya menggerakkan badan bagai robot, kegiatan
ini pun sudah berguna. Sekurang-kurangnya, menyehatkan raga. Begitu pula jika
Anda perlakukan shalat sebagai semacam meditasi. Sekurang-kurangnya,
menyehatkan jiwa.
Tetapi,
shalat secara hakiki tidak sekadar bermanfaat menyehatkan jiwa-raga (fisik,
emosional, dan spiritual). Tahukah Anda bahwa dengan menunaikan shalat yang
berkualitas, Anda akan mencapai beragam jenis kecerdasan? Bukan hanya
kecerdasan pikiran (intelegensia/IQ), tetapi sekaligus kecerdasan emosional
(EQ), kecerdasan spiritual (SQ), dan kecerdasan sosial.
Bagaimana
semua jenis kecerdasan tersebut bisa direngkuh melalui shalat? Buku ini sangat
berbeda dengan buku-buku tentang hikmah shalat yang telah beredar, karena
secara metodologis buku ini fokus pada kajian bagaimana terciptanya hubungan
antara shalat sebagai ibadah dengan kecerdasan manusia sebagai kekuatan pikiran
dan jiwa. Di samping itu, kekuatan buku ini juga terletak pada ditampilkannya
rangkaian panduan praktis guna menjalankan shalat yang mampu melejitkan semua
jenis kecerdasan manusia (shalat SMART). Karena itu, buku ini sangat aplikatif,
metodis, dan dapat langsung Anda terapkan untuk meningkatkan mutu shalat dan
sekaligus kecerdasan Anda!
2.5
Sholat Sebagai Komunikasi Spiritual Dengan Pencipta
Shalat,
yang secara lughowi (makna kata) berarti “hubungan atau komunikasi” kemudian
menjadi amalan ritual terpenting dalam agama Islam. Selain dikenal kemudian
sebagai “Pilar agama” (‘imaaduddin), juga merupakan salah satu dari lima rukun
Islam. Menjalankan shalat merupakan kewajiban ‘aini (setiap individu Muslim),
melalaikannya merupakan “pengrusakan” terhadap dasar-dasar keislaman seseorang.
Melakukan
shalat bukan sekedar melakukan gerakan-gerakan atau membaca bacaan-bacaan
formal semata. Melainkan melakukan kegiatan “syamil” (komperenhesif) dan
“mutawazin” (imbang) di antara tiga unsur kemanusiaan kita. Shalat mencakup
kegiatan fisik, ruh, dan juga fikiran. Ketiga hal ini adalah pilar-pilar
kehidupan manusia, yang justeru ketiganya bersatu padu dalam amalan shalat yang
dilakukan.
Di
saat ketiga unsur hidup manusia itu menyatu dalam sebuah pergerakan terpadu, di
situlah akan menumbuhkan “keseimbangan” pergerakan hidup manusia. Keseimbangan
ini yang kemudian menjadi pijakan kehidupan manusia yang sehat. Hanya dengan
hidup yang imbang, manusia mampu mendapatkan kehidupan yang sehat secara
paripurna. Selain tumbuhnya kehidupan yang sehat secara paripurna, dengan
keterlibatan tiga unsur tadi, manusia menjalin komunikasi paripurna pula dengan
Sang Pencipta. Komunikasi paripurna ini yang kemudian dikenal dalam bahasa
agama sebagai “ khusyuu’”. Khusyu menjadi “hati” shalat yang dilakukan. Shalat
yang tidak memiliki khusyu’ ibarat manusia yang tidak berhati. Manusia yang
tidak lagi berfungsi nuraninya, sehingga pandangannya akan selalu tertumpu pada
hal hal lahiriyah semata.
Di
saat mata nurani menjadi tumpul atau buta, maka lahiriyah akan menjadi sosok
yang buas. Kehidupan yang tidak memiliki “mata nurani” adalah kehidupan hewani,
bahkan lebih rendah nilainya dari kehidupan hewani. Dan jika ini terjadi,
manusia yang awalnya diciptakan dengan pencptaan yang terbaik, dimuliakan, dan
memiliki keunikan-keunikan, terjatuh ke lembah kehinaan yang paling rendah
(asfala saafilin). Oleh karenanya, shalat bukan hanya dikerjakan, tapi
seharusnya “didirikan” setiap saat. Formalitasnya memang ada lima waktu, tapi
seharusnya shalat itu tegak dalam kehidupan kita di 24 jam 7 hari sepekan.
Maka, ada “shalat di antara shalat-shalat” (shalaatul wustha) yang kita
lakukan. Shalat “Wustha” (in between) adalah tegaknya relasi dan komunikasi
antara hamba dan Rabbnya di setiap saat dan ruang. Bahkan keluar masuknya nafas
seorang hamba seiring dengan “ kesadaran penghambaan” terhadap Rabbnya.
Dengan
bekal soliditas perlindungan dari kejatatan-kejahatan dan soliditas basis
kebajikan kebajikan, serta dibarengi oleh kesadaran Ilahi dan inteletualitas
hati, dia akan menjalani kehidupannya dengan penuh konsistensi di atas ridha
Ilahi. Konsistensi perjalanan hidup di atas ridha inilah yang disebut “taqwa” ,
yang merupakan cita-cita tertinggi dalam kehidupan beragama. Cita-cita
tertinggi yang diperjuangkan hingga hembusan nafas terakhir di bumi yang fana
ini.
2.4
Keutamaan Sholat Tepat Waktu
2.5.1. Sholat Subuh
Pukul
05.00-06.00 saat salat subuh merupakan waktu yang baik untuk menerapi
pencernaan.
2.5.2 Sholat Zuhur
Pada
waktu sholat zuhur, ada energi api yang keluar pada diri pukul 12.00 sampai
sora yang bermanfaatbagi jantung dan ginjal.
2.5.3. Sholat Ashar
Dalam
gerakan sholat ashar, terdapat siklus dari panas ke dingin yang berguna bagi
terapi kandung kemih. Secara alamiah, gerakan sholat ashar ternyata memisahkan
zat-zat kimia dalam tubuh kita.
2.5.4. Sholat Maghrib
Ada
energi air yang keluar pada pukul 18.00 setelah terbenamnya matahari. Menurut
pengobatan ilmu cina waktu maghrib yang disertai gerakan sholat sekaligus
menerapi ginjal.
2.5.5. Sholat Isya’
Sholat
isya’ dilaksanakan setelah matahari terbenam. Waktu ini disebut dapat
mengurangi kelebihan energi. Dan ada energi kayu yang keluar pada pukul 23.00
yang mampu menghancurkan racun-racun ditubuh. Menurut pengobatan ilmu cina,
racun itu dibakar kayu untuk membuang racun di otak.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pelaksanakan ibadah sholat
selain sebagai kewajiban tetapi juga memiliki banyak manfaat ,baik bagi
kesehatan, mental dan kecerdasan, maupun
lemahnya komunikasi dengan Sang Pencipta. Apalagi jika ibadah sholat
dilaksanakan sesuai waktunya, maka akan menambah manfaat dalam tubuh kita
karena setiap waktu sholat memiliki manfaat yang tersendiri. Sehingga
dari sholat, dapat menjadikan manusia sebagai makhluk bertuhan yang yang taat
serta sehat jasmani maupun rohaninya.
3.2 Saran
Mengingat pelaksanaan sholat tepat waktu dan rutin
merupakan kewajiban bagi umat muslim dan memiliki banyak manfaat pada diri kita
maka hendaklah setiap umat islam menanamkan keyakinan hal tersebut dalam hati
masing-masing dan melaksanakan sesuai dengan ketentuan islam sebagaimana umat-umat
terdahulu melaksanakannya.
DAFTAR
PUSTAKA
http://kiatmulia2.blogspot.com/2013/01/makalah-pengaruh-shalat-dalam-kehidupan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar